GERAKTIMUR.COM — MAKASSAR — Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulawesi Selatan diprediksi bakal berlangsung dalam tensi tinggi akibat polarisasi tajam antara elite pengurus pusat (DPP) dan arus bawah di tingkat DPD II (Kabupaten/Kota).
Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), DR Andi Ali Armunanto, menilai ada benturan kepentingan yang nyata. Di satu sisi, 21 Ketua DPD II se-Sulsel telah solid mengonsolidasikan dukungan untuk Ketua DPD II Golkar Makassar, Munafri Arifuddin. Di sisi lain, DPP dikabarkan condong memberikan restu diskresi kepada figur lain, yakni Andi Ina Kartika Sari (Bupati Barru) dan Ilham Arief Sirajuddin (IAS).
"Jika keputusan pusat dipaksakan tanpa mendengar daerah, proses Musda berisiko deadlock atau kacau karena adanya perlawanan terbuka dari bawah," ujar Andi Ali di Makassar, Minggu (14/6/2026).
Ancaman Migrasi Kader ke Partai Lain
Kondisi ini membawa risiko geopolitik yang besar bagi partai beringin. GerakTimur Online mencatat beberapa poin krusial yang mengancam posisi Golkar jika konflik internal ini gagal dimitigasi:
BACA JUGA:
Skenario Eksodus Massal: Jika aspirasi daerah diabaikan, kader-kader potensial berpotensi melakukan migrasi besar-besaran ke partai saingan seperti NasDem dan PSI yang kini tengah agresif membidik figur berpengalaman.
Mengulang Sejarah Kelam: Situasi ini mirip dengan pecahnya gerbong Golkar saat hengkangnya IAS ke Demokrat di masa lalu.
Pertaruhan Pemilu 2029: Kehilangan kader matang akan memperlemah posisi Golkar di Sulsel, yang pada pemilu terakhir berada di peringkat ketiga perolehan suara total.
Andi Ali menyarankan agar elite penentu kebijakan segera membuka ruang kompromi dan negosiasi sejak dini, tanpa harus menunggu hari-H pelaksanaan Musda agar tidak menyisakan luka politik yang fatal.