GERAKTIMUR.COM — Siapa di sini yang tiap lewat Poros Moncongloe–Pamanjengan rasanya pingin istigfar terus? Nggak bisa dipungkiri, jalur yang jadi urat nadi penghubung antara Makassar dan Maros ini sempat lama jadi langganan "cibiran" di lini masa media sosial. Mulai dari postingan video pengendara motor yang harus zig-zag menghindari kubangan, keluhan macet parah, sampai curhatan warga lokal yang capek karena debu dan jalanan rusak.
Kini, penantian panjang itu akhirnya menemui titik terang. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, baru saja meresmikan groundbreaking pengerjaan permanen ruas jalan ini. Tak sendiri, momen itu juga dihadiri langsung oleh Bupati Maros, Chaidir Syam, yang ikut turun tangan mengawal aspirasi warganya.
Seberapa Besar Ekspektasi dan Harapan Warga?
Kalau, mau jujur, ekspektasi masyarakat di media sosial itu sederhana banget: pengen jalanan mulus tanpa rasa deg-degan.
Selama ini, tingkat urgensi jalan tersebut memang tinggi banget karena menyangkut mobilitas harian pekerja, anak sekolah, sampai distribusi logistik ekonomi. Warga udah terlalu lelah dengan janji tambal sulam yang kalau kena hujan deras bakal balik rusak lagi.
Makanya, begitu proyek dengan alokasi dana sekitar Rp239 miliar lewat Program Multi Years Project (MYP) Paket 6 ini resmi dimulai—mencakup bentangan sekitar 9,3 kilometer dari Batas Kota Makassar hingga Benteng Gajah—harapan publik langsung melambung tinggi. Publik berharap proyek ini dikerjakan secara transparan dan tuntas, bukan cuma proyek seremonial yang mangkrak di tengah jalan.
Solusi Nyata di Lapangan: Tuntas tapi Perlu Sabar

Langkah pemerintah provinsi bersama Pemkab Maros lewat penanganan permanen ini jelas menjadi solusi jangka panjang yang paling dinantikan. Bedanya kali ini, sebelum pembangunan permanen digeber, pihak pemprov sempat mengandalkan penanganan darurat agar jalur tersebut tetap bisa dilalui dengan relatif aman.
Namun, di balik optimisme itu, media sosial juga mesti jadi ruang pengingat bersama. Namanya proyek besar, pasti ada dinamika di lapangan:
Pengaturan Lalu Lintas: Pihak berwenang sudah wanti-wanti bakal ada penyesuaian arus selama proses konstruksi berjalan.
Potensi Kemacetan Sementara: Warga diimbau untuk bersiap menghadapi sedikit hambatan mobilitas harian selama alat berat bekerja.
Artinya, solusi permanen ini butuh "bayaran" di depan berupa kesabaran ekstra dari para pengendara. Kalau jalannya nanti sudah mulus, tentu capeknya kita selama nunggu bakal terbayar lunas.