IAS Menang Tanpa Menekan: Rasionalitas Transisi DPD II dan Beban Pembuktian IAS Menuju 2029

IAS Menang Tanpa Menekan: Rasionalitas Transisi DPD II dan Beban Pembuktian IAS Menuju 2029

Yusuf Umar 20 Jul 2026

Di atas panggung politik Musda Golkar Sulawesi Selatan, sebuah lakon transisi kepemimpinan baru saja dimainkan dengan sangat elegan.

Ketika sebelumnya Munafri Arifuddin (Appi) tampak menguasai arena dengan deretan dukungan awal dari para ketua DPD II, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) hadir dan menggeser konstelasi tersebut tanpa perlu memicu benturan keras.

Mundurnya Appi dan penetapan aklamasi bagi IAS pada akhirnya bukanlah hasil dari intervensi DPP atau Ketua Umum Golkar, melainkan dari sebuah pergeseran kesadaran politik yang organik di internal partai.

Banyak pihak di luar arena yang salah kaprah dan menarasikan bahwa Surat Keputusan (SK) diskresi dari DPP untuk IAS adalah instrumen absolut yang merampas hak suara kubu Appi. Faktanya, diskresi tersebut murni hanyalah "tiket masuk".

Jakarta tidak mengeluarkan perintah mutlak untuk sebuah transisi dukungan. DPP justru bersikap pasif dan membebaskan, seolah memberikan pesan terbuka: "Kami izinkan IAS masuk ke dalam arena kontestasi secara sah. Sekarang, mari kita lihat kepada siapa DPD II Se-Sulsel benar-benar ingin berlabuh."

Di sinilah realitas politik berbicara. Kubu Appi tidak hancur karena dicurangi oleh pusat, melainkan harus menghadapi kenyataan bahwa barisan DPD II yang selama ini diandalkan secara sadar dan sukarela berbalik arah.

Peralihan dukungan masif ini adalah representasi murni dari kemenangan rasionalitas atas sentimen euforia belaka.

Para pemegang suara di daerah melakukan kalkulasi ulang yang pragmatis. Mereka menyadari bahwa di balik ruang kompetisi yang dibuka oleh pusat, ada pertaruhan besar mengenai masa depan logistik dan struktural partai.

Visi manajerial IAS—yang membawa tawaran timeline konsolidasi organisasi yang terukur hingga 2027 dan garansi perluasan kursi legislatif pada Pemilu 2029—terbukti jauh lebih masuk akal dan memikat.

Para ketua DPD II menyadari bahwa untuk menghadapi turbulensi elektoral ke depan, partai membutuhkan seorang arsitek strategi yang riil, bukan sekadar mengandalkan ketokohan teritorial semata. IAS tidak memaksa Appi mundur; ia sekadar menawarkan rasionalitas yang membuat barisan pendukung lawan membubarkan diri secara perlahan.

Namun, kemenangan berbasis rasionalitas taktis ini membawa konsekuensi yang jauh lebih berat bagi IAS: beban pembuktian. Dengan memenangkan Musda melalui gagasan dan janji restrukturisasi, IAS kini terikat pada timeline yang ia buat sendiri.

Tantangan terbesar IAS ke depan bukan lagi sekadar meredam sisa-sisa faksi atau menyatukan barisan pasca-Musda.

Ujian sesungguhnya adalah berpacu dengan waktu menuju batas konsolidasi di tahun 2027. Ia harus memastikan bahwa mesin partai kembali hidup hingga ke tingkat desa, mengkalibrasi ulang instrumen pemenangan, dan memastikan seluruh infrastruktur partai siap tempur.

Jika pada Pemilu 2029 target peningkatan kursi legislatif—baik di tingkat DPR RI, DPRD Provinsi, maupun DPRD Kabupaten/Kota—gagal direalisasikan, maka kejeniusan taktis di arena Musda ini hanya akan dicatat sejarah sebagai kemenangan manajerial yang mandul di lapangan elektoral.

Memuat artikel selanjutnya...
PD 2026