Menjelang Musda: Surat Diskresi Ketum Bahlil Dikabarkan Terbit untuk IAS, Sinyal Kuat Solusi Bangkitnya Golkar Sulsel

Menjelang Musda: Surat Diskresi Ketum Bahlil Dikabarkan Terbit untuk IAS, Sinyal Kuat Solusi Bangkitnya Golkar Sulsel

Yusuf Umar 23 Jun 2026

MAKASSAR – Dinamika politik menjelang Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Selatan kini memasuki babak baru yang semakin krusial.

Langkah Mantan Wali Kota Makassar dua periode, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), untuk memimpin beringin Sulsel dikabarkan kian mulus menyusul berhembusnya kabar penerbitan surat diskresi dari DPP serta mengalirnya dukungan dari berbagai tokoh strategis.

Kabar mengenai "surat sakti" atau hak prerogatif Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia ini menjadi perbincangan hangat di berbagai ruang publik hingga warung kopi di Makassar. Berdasarkan laporan dari Herald.id, surat diskresi tersebut disinyalir telah diterbitkan sejak Jumat, 12 Juni lalu, dan mengarah kuat kepada sosok IAS.

Sinyalemen ini diperkuat oleh pernyataan sejumlah elite partai. Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhidin M. Said, tidak menampik kabar tersebut secara gamblang dan justru memberikan gestur politik yang menarik.

"Tanyakan ke Pak Ilham," ujar Muhidin singkat saat dikonfirmasi.

Di sisi lain, Plt Wakil Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Arief Rosyid Hasan (ARH), turut mengonfirmasi bahwa sejauh ini nama Andi Ina Kartika Sari dan IAS memang menjadi dua figur yang mendapatkan atensi serta restu dari DPP. Namun, ARH memberikan indikasi bahwa salah satu dari kandidat tersebut tampaknya akan mengantongi diskresi khusus untuk bertarung di arena Musda.

IAS Dinilai Sebagai Solusi Terbaik dan Pengurai Faksionalisasi

Di tengah mencuatnya isu diskresi tersebut, gelombang dukungan riil di tingkat akar rumput dan tokoh masyarakat di Sulsel terus mengalir deras untuk IAS. Melansir data dari Pinisi.co.id, tokoh pemuda sekaligus eks Juru Bicara FPI Sulsel, Armand Rachman, menilai bahwa IAS adalah figur paling ideal dan jawaban konkret atas kebutuhan Golkar Sulsel saat ini.

Menurut Armand, karakter IAS yang merakyat, rendah hati, serta konsistensinya dalam menjaga silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat menjadi modal utama yang tidak dimiliki semua kandidat.

Track record elektoral IAS juga sudah sangat teruji, salah satunya saat memenangkan Pilwalkot Makassar periode kedua dengan perolehan suara mutlak sebesar 68%, mematahkan berbagai prediksi lembaga survei kala itu.

Senada dengan hal tersebut, Pengamat Politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Ali Armunanto, menilai bahwa kapasitas IAS dalam melakukan konsolidasi politik sangat dibutuhkan Golkar Sulsel. IAS dianggap mampu menyatukan kembali kekuatan politik di tingkat akar rumput yang sempat mengalami faksionalisasi atau pembelahan pasca-agenda politik sebelumnya.

Meski begitu, tantangan besar tetap menanti. Pengamat mengingatkan agar proses konsolidasi yang terpusat dari DPP ini tetap mengedepankan manajemen konflik yang matang guna menghindari adanya resistensi internal di kemudian hari.

Dengan kombinasi antara restu dari Ketum Bahlil Lahadalia serta dukungan elektoral yang mengakar kuat, figur IAS kini menjadi magnet utama sekaligus energi baru yang diproyeksikan mampu mengembalikan kejayaan Partai Golkar di tanah Sulawesi Selatan pada momentum Musda XI mendatang.

Memuat artikel selanjutnya...
PD 2026