GERAKTIMUR.COM — Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan akan berkoordinasi dengan Panitia Seleksi Nasional dan pihak penyelenggara untuk mengevaluasi sistem pendidikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) serta memperketat pengawasan kesehatan guna menjamin keselamatan para peserta ke depannya.
Langkah evaluasi ini diambil menyusul adanya insiden korban jiwa dalam pelatihan tersebut.
Pihak Kemhan menegaskan bahwa seluruh peserta latsarmil sejatinya telah melalui serangkaian tes kesehatan fisik sebelum memulai pendidikan, dan penanganan medis selalu diberikan sesuai standar apabila ada peserta yang sakit.
Pernyataan ini merespons rentetan kejadian meninggalnya para peserta program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI). Sebelumnya, dua peserta SPPI lebih dulu dilaporkan wafat saat mengikuti program latsarmil, yakni:
Yonanda Muhammad Taufiq: Meninggal dunia akibat henti jantung (cardiac arrest) di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja pada 17 Juni 2026.
Anisa Muyassaroh: Meninggal dunia akibat heat stroke saat mengikuti pendidikan di Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan.
Terbaru, total peserta yang meninggal kini bertambah menjadi tiga orang. Korban ketiga adalah Novia Rahmadhani Sihotang, calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih (KNPM) tahun 2026.
BACA JUGA:
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, pada Rabu (24/6/2026) menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan Novia berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB).
Novia dilaporkan mengalami gangguan kesehatan saat menjalani pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Jakarta, pada Senin (22/6/2026) dan sempat dilarikan ke RS dr. Esnawan Antariksa, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Selasa (23/6/2026).