GERAKTIMUR.COM — KOTABARU — Menjelang perhelatan akbar Festival Budaya Saijaan (FBS) 2026, suasana pesisir Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, kian rimbun oleh geliat persiapan para nelayan. Ratusan kapal kayu mulai bersolek, tiang-tiang layar dipasangi umbul-umbul warna-warni yang berkibar menantang angin laut. Di tengah kesibukan warga mempersiapkan ritual Selamatan Leut tersebut, tampak hadir Anggota DPRD Kotabaru, H. Kadir, yang turun langsung meninjau ke lokasi persiapan.
Kehadiran H. Abdul Kadir bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Sebagai salah satu tokoh masyarakat Kotabaru keturunan Bugis, ia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan napas kebaharian yang menghidupi daerah ini. Bagi masyarakat keturunan perantau Sulawesi Selatan di Kotabaru, laut adalah urat nadi penyambung sejarah leluhur, dan perayaan seperti ini membawa memori kuat pada tradisi Maccera Tasi di kampung halaman.
Dalam kunjungannya di kawasan pelabuhan rakyat dan pesisir, H. Kadir menyempatkan diri berdialog dengan para nelayan dan tokoh adat Suku Bajau Sammah yang sedang merampungkan riasan kapal. Ia memberikan apresiasi penuh atas gotong royong warga pesisir yang terus merawat warisan budaya Nusantara di tengah modernisasi zaman.
Menemukan Kejeniusan dalam Kesederhanaan
Di balik potensi FBS sebagai magnet pariwisata nasional, H. Kadir justru menyoroti satu nilai filosofis yang sering kali luput dari pandangan banyak orang. Ia mengagumi kesederhanaan yang mendasari seluruh rangkaian tradisi ini.
"Ada kejeniusan dan kedalaman makna dalam setiap ritual yang sangat sederhana ini. Harapan dan doa mereka kepada Sang Pencipta disampaikan tanpa perlu kata-kata yang rumit. Hanya bentuk syukur murni atas rezeki tangkapan ikan dan keselamatan di laut," ungkapnya saat merenungi makna di balik persiapan pelarungan sesajen dan lantunan Alahai.
Sering kali, hiruk-pikuk kehidupan modern membuat banyak orang abai dan tak lagi peka menangkap rasa syukur dari hal-hal yang sederhana. Namun, melalui FBS, masyarakat pesisir Kotabaru membuktikan bahwa kesederhanaan budi pekerti dalam menghargai alam justru menjadi kekuatan yang menginspirasi.
Simbol Persaudaraan Maritim
Sebagai legislator, H. Kadir menegaskan komitmennya untuk terus mengawal dan mendukung penuh pelestarian budaya dalam Festival Budaya Saijaan. Baginya, festival ini adalah cerminan dari semangat Passompe—keberanian para pelaut Bugis, Mandar, dan Bajau yang tidak mengenal batas wilayah, melainkan menjadikan laut sebagai pemersatu.
BACA JUGA:
"Kotabaru ini miniatur Indonesia. Keberadaan etnis Bugis, Mandar, Bajau, Banjar, dan Dayak yang bersatu padu dalam semangat Saijaan (Seia Sekata) adalah modal sosial yang sangat berharga," tambahnya.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, melihat bagaimana nilai-nilai kebaharian dirawat dengan begitu indah di Kotabaru tentu memantik kebanggaan tersendiri. Persiapan FBS 2026 ini bukan sekadar menyambut festival pariwisata, melainkan merayakan jalinan persaudaraan maritim yang melampaui batas geografis—sebuah pengingat bahwa di manapun jangkar dilabuhkan, kesederhanaan dan rasa syukur selalu menjadi bahasa universal para pelaut sejati.