Mengintip Dapur dan Pasar Masa Lalu: Ketika Kuliner Makassar Menjadi Titik Temu Peradaban

Mengintip Dapur dan Pasar Masa Lalu: Ketika Kuliner Makassar Menjadi Titik Temu Peradaban

Yusuf Umar 17 Aug 2026

MAKASSAR — Piring di meja makan kita hari ini bukan sekadar wadah makanan, melainkan arsip berjalan dari sejarah panjang perjumpaan antarbangsa. Jejak itulah yang coba dibongkar kembali melalui pameran bertajuk “Jejak Artefak Akulturasi Pangan: Artefak Produksi dan Niaga Pangan Kota Makassar 1880–1960” yang resmi dibuka di Museum Kota Makassar, Minggu (16/8/2026).

Pameran yang dihelat selama tiga hari hingga 18 Agustus 2026 ini bukan sekadar memajang benda-benda antik peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, acara ini mengajak pengunjung menyusuri lorong waktu: bagaimana pelabuhan Makassar di era kolonial dan masa-masa pergerakan menjelma menjadi kuali peleburan (melting pot) budaya, pengetahuan, dan teknologi pangan.

Dari Dapur Rumah hingga Jaringan Maritim

Sebagai kota bandar niaga sejak berabad-abad lalu, Makassar dihuni oleh beragam komunitas—mulai dari pedagang Nusantara, Tionghoa, Arab, hingga bangsa Eropa. Interaksi intensif ini melahirkan peradaban rasa yang unik.

Pembina Yayasan Bentara Sejarah Sulawesi, Ansar Mulkin Bas, bersama Ketua Yayasan Muhammad Rosyidi Hardhi, menginisiasi ruang kurasi ini agar masyarakat melihat sejarah bukan dari buku teks yang kaku, melainkan dari benda-benda keseharian yang pernah akrab dengan tangan nenek moyang kita.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, Sinatrio Dahuhadiningrat, saat membuka pameran secara resmi. Menurutnya, artefak produksi dan niaga pangan memuat narasi besar tentang dinamika sosial-ekonomi masyarakat. Alat-alat pengolahan, wadah rempah, hingga pola perdagangan masa lalu merekam cerita tentang bagaimana manusia beradaptasi, bertukar teknologi, dan merajut kebudayaan bersama.

Menghidupkan Kembali Kesadaran Sejarah Publik

Digelar berkat dukungan Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2026, pameran ini berhasil menyedot perhatian ratusan pengunjung dari berbagai kalangan—mulai dari akademisi, seniman, pelajar, hingga masyarakat umum.

Di tengah gempuran modernisasi dan kuliner instan, kehadiran artefak-artefak ini menjadi pengingat penting bahwa identitas budaya Makassar dibangun di atas fondasi keterbukaan dan jaringan perdagangan maritim yang kuat.

Bagi Anda yang ingin melihat langsung bagaimana rempah, alat masak, dan dinamika niaga masa lalu membentuk identitas kota ini, pameran terbuka untuk umum secara gratis di Museum Kota Makassar pukul 10.00–16.00 WITA. Sebuah kesempatan langka untuk merenungi sejarah kota dari sudut pandang yang paling dekat dengan keseharian kita: dapur dan meja makan.

Memuat artikel selanjutnya...
PD 2026