GERAKTIMUR.COM — Tak ada lagi It's coming home. Kini, gemuruh Wonderwall dari tribune yang menjadi lagu kebangsaan baru mengiringi langkah optimis The Three Lions.
Di bawah komando Thomas Tuchel, Inggris telah berevolusi menjadi model transisi efisien yang sangat mematikan.
Argentina boleh saja bangga berlama-lama dalam mengalirkan bola, tapi Inggris tahu persis cara menghukum kelambatan tersebut dalam sekejap mata.
Berikut ledakan The Three Lions akan meruntuhkan dominasi La Albiceleste:
- Raja Transisi dan Sprint Kilat Data menunjukkan kelemahan terbesar Argentina adalah lambatnya transisi mereka (waktu ball recovery mencapai 92,96 detik). Ini adalah makanan empuk bagi Inggris yang memegang rekor sprints terbanyak di turnamen (2.711 kali). Begitu pemain Argentina melakukan salah umpan, ledakan kecepatan barisan depan Inggris mustahil untuk dikejar.
- Tikaman ke Jantung Pertahanan Inggris benci membuang waktu. Mereka mencatat rekor percobaan umpan pembelah pertahanan terbanyak (162 Defensive Linebreaks). Bukti nyatanya? Pemain Inggris sukses menerima bola di belakang garis pertahanan lawan sebanyak 102 kali (tertinggi di semifinalis lainnya). Lini belakang Argentina yang lambat akan terus-menerus dieksploitasi hingga berhadapan satu lawan satu dengan kiper mereka.
- Benteng Terakhir yang Tangguh Sadar bahwa mereka akan digempur, Inggris punya asuransi tingkat tinggi di bawah mistar. Jordan Pickford telah terbukti tangguh dengan 116 aksi di dalam kotak penalti, 94 aksi di luar kotak, dan 14 penyelamatan krusial (tertinggi). Refleks kelas atas ini adalah modal mutlak untuk meredam gempuran Argentina.
Argentina mungkin merasa aman dengan seni penggiringan opininya, tapi transisi brutal dan kecepatan vertikal Inggris siap memaksa La Albiceleste tertunduk takluk di bawah auman The Three Lions dan paduan suara Wonderwall.