GERAKTIMUR.COM — Esok hari mungkin Messi kembali menambah rekor golnya di 8 besar Piala Dunia 2026 dan semakin mengukuhkan namanya di daftar pencetak gol sepanjang masa.
Namun saat metrik angka rekornya dilampaui oleh Mbappe atau pemain lain, seorang legenda hanya akan dikenang sebagai mantan pemain hebat tanpa embel-embel keilahian seperti Greatest of All Time (GOAT).
Ini terjadi karena di era digitalisasi, insting pemujaan manusia telah berganti haluan menuju rasionalitas absolut.
Masyarakat modern tidak lagi membutuhkan narasi pohon keramat untuk menambal ketidaktahuan empiris mereka; sebab anomali alam yang dulu dikultuskan, kini tunduk pada identifikasi sains dan rasionalitas.
Metafora ini berlaku persis di dunia olahraga. Dulu, kehebatan yang tak bisa dijelaskan akal sehat akan melahirkan fanatisme akut. Kini, sains dan objektivitas data telah melucuti semua kekaguman tersebut.
Teknologi memaksa generasi menukar kekaguman emosional yang meluap-luap dengan kepastian metrik. Ketika sebuah rekor dipecahkan, tidak ada lagi perdebatan mitos.
Sang idola harus turun takhta secara otomatis, dipaksa lengser oleh objektivitas absolut dari sebuah sistem metrik yang tidak memiliki empati maupun romantisisme masa lalu.