GERAKTIMUR.COM — BARRU – Menepis stigma negatif tempat menjalani hukuman, Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Barru sukses menyulap jeruji besi menjadi wadah produktivitas.
Melalui program pembinaan kemandirian, para warga binaan kini dibekali berbagai keterampilan praktis mulai dari memproduksi sabun cuci piring premium hingga pembuatan paving block sebagai modal nyata untuk membuka usaha mandiri setelah bebas.
Program ini dirancang bukan sekadar untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai investasi masa depan bagi warga binaan agar memiliki peluang usaha mandiri setelah menyelesaikan masa pidananya.
Kepala Rutan Kelas IIB Barru, Hardiman, mengungkapkan bahwa sabun cuci piring hasil produksi petugas dan warga binaan ini menggunakan bahan berkualitas tinggi yang potensial untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Proses pembuatannya pun terbilang efisien.
"Bahannya premium. Ada yang proses pembuatannya cukup sederhana dan bisa diproduksi hanya dengan lima bahan. Itu sudah sangat baik untuk dikembangkan," ujar Hardiman saat ditemui di Rutan Barru, Senin (22/6/2026).
Melihat potensi pasar yang baik, Rutan Barru berencana menggenjot volume produksi dalam waktu dekat. Targetnya, produksi skala yang lebih besar akan dieksekusi pada pekan depan atau paling lambat bulan depan.
"Minggu depan, atau paling lambat bulan depan, kami berencana kembali melakukan produksi untuk kebutuhan Super Pell (pembersih lantai)," tambah Hardiman.
Tak hanya terfokus pada pembuatan sabun, Rutan Barru juga membuka ruang kreasi yang luas di berbagai sektor ekonomi produktif lainnya. Berbagai unit usaha kini aktif berjalan di dalam rutan, mulai dari:
Usaha mebel dan pangkas rambut.
Budidaya ikan dan peternakan ayam kampung.
Pengelolaan warung kopi (Warkop) dan pencucian mobil.
Pembuatan paving block yang bersinergi dengan pihak PLTU.
Hardiman berharap, ragam pilihan keterampilan ini dapat menjadi bekal nyata yang mengubah stigma dan membentuk kemandirian warga binaan saat kembali ke masyarakat.
"Saya berharap para warga binaan ke depannya sudah bisa berkarya dan mandiri dengan keterampilan yang mereka miliki," harapnya.
Manfaat nyata dari program pembinaan ini dirasakan langsung oleh warga binaan. Salah satunya adalah Pandi, warga binaan yang terjerat kasus narkotika dan dijatuhi hukuman lebih dari lima tahun penjara.
Pandi mengaku, masa hukumannya berubah menjadi ruang belajar yang produktif. Dari yang awalnya tidak memiliki keahlian khusus, kini ia telah mahir memangkas rambut.
"Dulu saya tidak tahu bekerja apa, sekarang saya sudah bisa memangkas rambut. Di sini banyak kegiatan; ada yang cuci mobil, mengelola warung kopi, ada juga yang membuat produk lainnya. Semua teman-teman dibina dengan baik," kata Pandi.
Pandi menambahkan, dari total lebih dari 200 warga binaan di Rutan Barru, mayoritas terlibat aktif dalam berbagai program pembinaan.
Tidak hanya sekadar belajar, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan dari hasil karya mereka.
"Kami benar-benar dibina dan diberi kesempatan untuk menghasilkan uang dari keterampilan yang kami pelajari. Kalau nanti keluar, saya ingin membuka usaha pangkas rambut sendiri," ungkap Pandi optimis.
BACA JUGA:
Langkah progresif yang diambil oleh Rutan Kelas IIB Barru ini menegaskan bahwa fungsi pemasyarakatan kini telah bergeser.
Bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman fisik, melainkan wadah rehabilitasi, penguatan keterampilan, serta pemulihan hidup demi menyongsong masa depan yang lebih baik.