​40 Titik Panas Terpantau dalam Semalam, Pemkab Barru Perkuat Mitigasi Darurat

​40 Titik Panas Terpantau dalam Semalam, Pemkab Barru Perkuat Mitigasi Darurat

Mahmud rahim 25 Aug 2026

BARRU – Pemerintah Kabupaten Barru meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi akibat dampak fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga Oktober 2026.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Barru, Andi Syarifuddin, S.IP., M.Si., memimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) lintas sektor yang digelar di Ruang Data Kantor Bupati Barru, Senin (24/8/2026).

​Rakor ini melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran TNI-Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PLN ULP Barru, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan camat se-Kabupaten Barru, serta instansi terkait lainnya.

Pertemuan strategis ini bertujuan mengevaluasi perkembangan situasi di lapangan sekaligus merumuskan langkah penanganan terpadu terhadap ancaman kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

​Dalam pemaparannya, Andi Syarifuddin mengungkapkan bahwa eskalasi dampak El Nino di wilayahnya menunjukkan peningkatan yang signifikan, ditandai dengan bertambahnya wilayah yang membutuhkan pasokan air bersih serta lonjakan laporan titik api (hotspot).

​"Kita melihat eskalasi yang ada. Setiap hari ada saja titik kebakaran, kemudian titik-titik yang membutuhkan pelayanan air bersih juga semakin bertambah. Karena itu, kita perlu duduk bersama untuk menentukan langkah konkrit apa yang harus kita lakukan," ujar Andi Syarifuddin di hadapan para peserta rapat.

​Ia juga menyoroti temuan sistem pemantauan satelit yang sempat merekam hingga sekitar 40 titik api dalam satu malam di wilayah Kabupaten Barru.

Meski demikian, Sekda mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun proporsional, mengingat tidak seluruh titik panas secara otomatis merupakan kebakaran hutan, melainkan sebagian berasal dari aktivitas pembakaran sisa pembersihan lahan oleh warga.

​Kendati demikian, kondisi lahan yang sangat kering membuat api sangat mudah membesar dan sulit dikendalikan. Oleh karena itu, kebiasaan membakar lahan di musim kemarau ini dinilai memiliki risiko bahaya yang sangat tinggi.

​Selain ancaman karhutla, penurunan debit air secara drastis turut mengganggu jaringan pelayanan air bersih bagi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Barru terus berupaya memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi melalui koordinasi intensif bersama instansi terkait.

​Pada kesempatan tersebut, Sekda Barru menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada jajaran TNI dan Polri yang selama ini bergerak cepat membantu masyarakat memadamkan berbagai insiden kebakaran, khususnya di medan yang sulit dijangkau armada pemadam kebakaran.

Apresiasi serupa juga diberikan kepada Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ajattappareng yang telah meminjamkan alat pemadam portabel berupa jet shooter kepada BPBD Barru, serta membuka peluang penambahan sarana pendukung guna mengoptimalkan respons darurat di lapangan.

​Rakor lintas sektor ini sekaligus menjadi forum krusial untuk mengkaji kemungkinan peningkatan status penanganan bencana dari siaga bencana menjadi darurat bencana.

Andi Syarifuddin menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan diambil secara terukur dengan berlandaskan pada data objektif serta masukan komprehensif dari seluruh pemangku kepentingan yang hadir.

​"Apakah status ini segera kita tingkatkan dari siaga bencana menjadi darurat bencana, tentu kesimpulannya akan kita ambil berdasarkan diskusi dan masukan konstruktif dari kita semua," pungkasnya.

​Pemerintah Kabupaten Barru berharap sinergi yang kuat antar-instansi ini dapat mempercepat mitigasi risiko, menekan potensi kerugian, serta menjamin keselamatan dan kesejahteraan masyarakat selama musim kemarau ekstrem berlangsung.

Memuat artikel selanjutnya...
PD 2026